Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2012

Spesies Ikan Purba Ditemukan di Perairan Papua

Ilustrasi
(Sinar Papua) -Biak: Wilayah perairan laut sepanjang Kampung Opiaref, Kabupaten Biak Numfor, Papua, berdasarkan hasil penelitian ilmuwan Jepang, ditemukan habitat hidup spesies ikan purba Kolakan.

"Ikan purba ini berukuran besar hidup ratusan tahun silam dan masih dapat dilihat di wilayah perairan Opiaref, Distrik Oridek, hingga sekarang," ujar Bupati Biak Yusuf Melianus Maryen di Biak, Selasa.

Ia mengakui, jika wilayah ikan purba Kolakan itu dikemas sebagai objek pariwisata bahari maka bisa menarik minat turis mancanegara untuk melihat langsung kehidupan alam laut ikan tersebut.

Pemkab Biak, lanjut Bupati Maryen, sangat berterima kasih dengan ilmuwan Negeri Sakura yang telah melakukan studi potensi kelautan di wilayah Kepulauan Biak Numfor.

"Untuk menghidupkan bidang pariwisata bahari di perairan Biak berupa menyelam, memancing dan snorkling maka habitat hidup ikan purba bisa menjadi daya tarik wisatawan unggulan," katanya.

Untuk retribusi penerimaan daerah dari sektor pariwisata, menurut Maryen, pendapatan di bidang ini masih terbatas karena minimnya investor memanfaatkan potensi pariwisata bahari yang dimiliki Biak.

"Pemkab telah membuat regulasi perlindungan sumber daya alam Pulau Biak sebagai komitmen pemerintah menjaga keaslian dan keberagaman sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat," kata Bupati Maryen.

Berdasarkan data kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara di Kabupaten Biak Numfor setiap tahunnya mencapai 15 ribuan wisatawan.(Ant/RZY)

Sumber:  metrotvnews.com

Selasa, 20 November 2012

Kala Warga Mee Tak Lagi Nikmati Alam Mereka

Kala Warga Mee Tak Lagi Nikmati Alam Mereka
Oleh Yermias Degei

MASYARAKAT adat Mee, tinggal di tanah adat Yaro, secara administrasi pemerintah masuk Distrik Yaro, Kabupaten Nabire, Papua. Ia berada di kaki gunung keramat, Huwou dan Waihai. Hamparan hutan luas.

Di kawasan ini ada emas, beragam jenis kayu, tanah subur, banyak rotan, dan potensi masoi. Udang berkelimpah, ikan air tawar, tikus tanah, ada kuskus hutan. Ada beraneka burung, babi hutan, obat-obatan alami melimpah, makanan alami, bahan payung tradisional, sampai bahan panah dan busur tersedia di sana. “Tahun 2000 ke bawah, wilayah Yaro, berlimpah kekayaan,” kata Kepala Kampung Ororodo, Yohana Mekey, Jumat (20/7/12).

Namun, semua itu hilang. Sekarang tidak ada. Hutan telah dibabat habis oleh PT Jati Dharma Indah. Mereka tidak hanya mengambil kayu juga memburu kuskus, ikan, dan burung. Burung-burung sudah dibunuh dengan senapan angin.

Kepala Kampung Ororodo, Yohana Mekey. Foto: Yermias Degei
Sungai pun tercemar karena mereka menangkap ikan menggunakan pestisida akodan. “Ikan dan udang, dibabat dengan obat (pestisida akodan-red) sungai-sungai tercemar. Sekarang sudah tidak ada semua. Dulu, dekat-dekat. Sekarang kami harus pergi jauh ke hutan sana,” kata Yohana. Perempuan 60 tahun ini menunjuk ke arah hutan.

Menurut dia, ketika perusahaan beroperasi, masyarakat di Yaro tidak boleh berburu dan mencari ikan. “Waktu itu, kami tidak bisa masuk hutan kami. Perusahaan bilang, itu tanah dia. Padahal, ini tanah kami.”

Saat ini, warga tak hanya kehilangan hutan beserta aneka flora fauna. Mereka juga kehilangan tanah adat mereka. Bagi dia, kehilangan tanah adalah kehilangan sesuatu yang sangat berarti. “Soal tanah di Yaro, sekarang sebagian sudah diambil orang secara bebas. Kami tidak kuat bicara. Memang benar, tahun 1996 ke bawah, tanah dan hutan milik kami. Sekarang, pemerintah kirim orang luar ke sini,” ucap Yohana.

Tak hanya perusahaan. Transmigrasi juga mulai di daerah ini tahun 1996. Warga transmigrasi menempati tanah adat mereka. Sekarang ada Satuan Perumahan (SP) 1, SP2 dan SP3 yang disiapkan pemerintah. “Hak ulayat untuk tempat trasmigrasi, pemerintah bayar Rp900 ribu.”

Budi, warga transmigrasi, mengatakan, penduduk trans banyak dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedang dari Manado dan Ternate datang sendiri dan tinggal di sana.

“Bisa lihat. Rumah warga lokal, dengan bahan bangunan gegabah dan papan cincang. Nampak berbeda dengan bentuk dan struktur bangunan milik warga trans. Rumah warga lokal lebih banyak beratapkan daun pandan, kadang didapati seng beberapa lembar terselip. Sejumlah dinding rumah milik warga lokal ditutupi dengan papan cincang atau gegabah,” ucap Budi.

Martinus Kegou, tokoh Masyarakat Yaro mengatakan, mereka keturunan ke 12 di atas tanah ini. “Kami menganggap tanah itu sama dengan kuskus, burung, dan manusia. Kami jaga tanah kami. Kami masuk hutan sampai enam atau tujuh bulan lalu pulang. Hutan itu tempat kami hidup.”

Hamparan hutan di Yaro secara turun-temurun milik tiga marga, Mekey, Kedeikoto dan Hupi. Marga Mekey, dibagi menjadi tiga, Bukisa, Tikiso, dan Megauwi. Marga Kedeikoto dibagi menjadi marga Nepou, Dumaou, dan Boma. Marga-marga lain seperti Kegou, Kamo Nipoto, Madai, Tebay, Kahame, dan Wakey.

“Tanah kami tidak ada yang kosong. Moyang kami telah membagi sejak zaman dulu. Marga Mekey mendiami kepala air Kadihai. Bukisa kuasai wilayah Waisai. Tikiso kepala air kali Kibihau bagian Timur kali Kiha sampai Waihai. Terus, Kedeikoto, Nepon, Dumou, dan Boma, menguasai kepala air Waihai sampai kepala air kali Peke,” kata Martinus.

Yunus Kegou, Ketua Koperasi Masyarakat mengungkapkan hal senada. Dulu, masyarakat benar-benar menjaga tanah dan hutan. “Karena itu adalah mereka. Kami hidup di atas tanah dengan memanfaatkan semua. Kami tahu bagaimana cara menjaga itu semua agar tetap hidup. Kami benar-benar menjaga sungai, pohon-pohon khusus tempat cendrawasih menari. Kami berharap mereka (perusahaan HPH-red) dan pemerintah ikut menjaga kami dan tanah kami,” harap Yunus.

Ilustrasi: kayu-kayu hutan Papua, dikikis pelahan oleh pemilik modal. Sedang, masyarakat adat hanya mampu melihat kerusakan alam mereka. Foto: Greenpeace


Perusahaan pemegang hak penguasaan hutan (HPH) boleh mengambil hutan dengan tetap menghargai masyarakat adat. “Menjaga apa yang kami jaga selama ini, supaya kami tetap hidup. Namun, yang terjadi saat ini adalah asal ambil.” Keinginan masyarakat agar hutan bisa bermanfaat dalam bentuk bina desa. Namun, pemegang HPH tidak memberikan itu.

Dia menjelaskan, pemegang HPH yang masuk di daerah ini PT Sesco tahun 1990-1991. PT Sesco, tidak mengikuti kubikasi dari pemerintah. Sampai kini, PT Sesco masih belum membayar Rp40 juta dengan hitungan satu kubik Rp1.000. “Permintaan masyarakat, empat motor, empat sensor, dan satu mobil belum dilunasi sampai kini.”

Sekitar 2003, ada tiga perusahaan masuk. PT Sesco berganti nama menjadi PT Pakartioga. Dua perusahaan lain, PT Junindo dan PT Kalimanis (PT Jati Dharma Indah). “Saya tidak tahu dari perusahaan apa tapi mereka yang kelola hutan adalah Mrs. Tan, Mrs. Won, Mrs. Lohu.”

Tak hanya alam rusak dan masalah ekonomi. Pendidikan dan kesehatan masyarakat Yaro pun memprihatinkan. Itu yang dikeluhkan Pendeta Ruben Tebay .

Selama HPH masuk, hak ulayat saja tidak ada, apalagi gedung sekolah atau beasiswa. Di kampung ini ada SD Yayasan Pendidikan Kristen, tetapi tidak ada guru. “Di daerah trans ada SD Inpres dan guru cukup. Kami mengirim anak-anak kami ke sana. Jaraknya, sekitar satu kilometer.” Soal kesehatan, Puskesmas baru dibangun di daerah trans. “Kami berobat di sana. Jaraknya satu kilometer juga.”

Ruben mengatakan, hubungan dengan trans di bidang ekonomi baik. Masyarakat sering membeli beragam produk dari warga trans. Begitu sebaliknya. “Kami saling percaya, bisa saling memberi bon dengan modal kepercayaan.” Namun, tidak dengan perusahaan.

“Rusa saja dia jual sama kami. Dia membawa senapan dan berburu sendiri. Masyarakat dilarang berburu di areal HPH. Dia tidak membeli rusa yang kami jual. Cabe yang masyarakat jual dia tidak beli. Sayuran juga sama. Mereka datangkan saja dari luar (kota-red),” kata Ruben, dengan nada tinggi.

“Kita tidak boleh tanam kakao, atau mau berburu saja harus minta izin, bahkan mereka minta KTP. Dalam perjanjian perusahaan-perusahaan ini hanya mengambil kayu, tetapi mereka ambil hasil hutan termasuk hasil tanah.”
Ilustrasi: Alam dan hutan Papua yang terus terkuras. Foto: Greenpeace

Bahkan, PT Kalimanis mengklaim, yang terkandung dalam tanah milik mereka. “Jika ada perusahaan yang mau masuk, harus minta surat tidak keberatan dari PT Jati Dharma Indah. Hubungan dengan perusahaan tidak baik. Pendeta saja mau membunuh, apalagi masyarakat biasa,” ujar dia. Ruben mengatakan, tenaga kerja tidak pernah mengambil warga lokal. “Tidak ada warga bekerja. Banyak masukkan lamaran tetapi tidak diterima. Mereka datangkan semua karyawan dari luar. Mereka sempat sewa sensor warga, padahal dia tukang sensor. Akhirnya, sensor itu rusak, tertimpa kayu dan tidak diganti lagi.” “Hutan yang menjadi ibu kami telah dirusak. Orang seberang telah mengklaim hutan adat kami. Kami dipaksa beralih cepat dari cara bertahan hidup masa lalu ke cara bertahan hidup masa kini. Kami bergantung pada segala yang datang dari luar. Tidak ada pembangunan. Kami pikir, mungkin Tuhan akan membangun sendiri kerajaan-Nya di sini.”


Sumber:  Mogobay.co.id

Minggu, 11 November 2012

DANAU MAKAMO PANTAS MENJADI TEMPAT WISATA

Danau Makamo (photo lst/doc sk)
Dogiyai - Selain lembah hijau, Wilayah Kamu Kabupaten Dogiyai memiliki satu telaga kecil yang sering disebut Danau Makamo. Ironisnya akibat perkembangan, Telaga inipun terancam rusak dan tak terawat akibat minimnya perhatian pemerintah setempat.

Sekitar lokasi Telaga Makamo masih terdapat banyak rumput tinggi. Bahkan lokasi rawa dan rerumputan hijau ini makin menebal hingga menutupi lokasi telaga. “Sebenarnya lokasi Telaga ini bisa dimanfaatkan sebagai areal wisata atau pemanfaatan pendapatan daerah oleh pemerintah. Tapi potensi ikan serta produksi ekosistem terbiarkan tanpa perawatan dan pemeliharaan baik. Kedepan kalau tidak ada perhatian, maka ini rugi bagi manusia dan pemerintah sendiri kita sendiri sebagai salah satu kekayaan alam yang terletak di dogiyai sebagai cocok untuk membuka wisata lokal alam hijau kamuu-Dogiyai.

Danau Telaga Makamo selain berpotensi sebagai lokasi wisata, juga warga jauh sebelumnya memanfaatkan lokasi telaga sebagai sumber potensi makanan bergizi. Di sekitar lokasi Telaga terdapat jenis serangga berpotensi sebagai makanan bergizi, dalam bahasa setempat (Suku Mee) disebut dengan istilah: Tani, Yukuga serta ikan-ikan, ikan lele dan berudu. “Binatang-binatang kecil ini, sejak nenek moyang sampai detik inipun memiliki sumber protein bagi anak kecil ataupun bagi orang dewasa. Selain itu, Tani dan Yukuga juga dipergunakan obat ketika jatuh sakit.  Secara mitos, air Telaga inipun terkadang dipergunakan warga untuk pengobatan luka, sakit malaria dan jenis penyakit lainnya dengan cara minum atau mandi di telaga tersebut. Namun selain dari makna tersebut diatas sudah pernah dipantau oleh beberapa orang ilmuwan barat dan mereka sangat terharu terhadap danau makamo.

Bila dipandang dari posisi Timur Telaga, danau ini menyerupai bentuk kasuari atau lebih bermirip dengan Pulau Papua saat dipandang dari gunung Togode, serta terletak kurang lebih 3,4 kilometer dari pusat Kota Kabupaten Dogiyai, persisinya diapit Bukit Odeedimi/ Togode dan Dadiyai Distrik Kamu Utara dan danau tersebut berwarna hitam yang bermuarah di bagian selatan melalui kampung Bukapa, Putapa dan Muniopa menuju titik pertemuan dengan kali/suagai mauwa. “Telaga  ini kalau mau dimanfaatkan  sebagai sumber wisata ataupun meningkatkan kapasitas potensi ekosistem yang ada, mestinya pemerintah kabupaten melalui dinas terkait mengalokasikan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Dogiyai. Sehingga pengelolahan dan pemanfaatkan bisa dimaksimalkan.

Dilihat dari perkembangan skarang, pemerintah distrik belum tentu mengerjakan sendiri, karena telaga berpotensi ini bermuara hingga puluhan kilometer melalui Kali Makamo di Distrik Kamu hingga ke Distrik Kamu Selatan. Sangat disayangkan, sebab ratusan pegawai pemerintah di Eksekutif maupun Legislatif Pemerintah Dogiyai semasa kecil hingga bisa bersekolah, Mereka sebenarnya dibesarkan serta bisa bersekolah dan menjadi orang pintar karena kekeyaan makanan bergizi di Lembah Hijau. (Dogomo Yan)

Misteri Unik Tentang Lukisan Berdarah Di Papua Barat

MENGUNJUNGI Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, laksana mengunjungi sebuah kota tua. Di wilayah distrik ini terdapat situs kuno yang menyimpan keajaiban dengan misteri di dalamnya. Tak hanya menarik, tapi juga mengundang orang untuk datang menjumput keelokannya.

Lukisan tebing yang merupakan situs kuno Kokas di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Lukisan ini merupakan peninggalan jaman prasejarah

Salah satu situs kuno yang terkenal di Kokas adalah lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat, tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. Di Distrik Kokas kekayaan peninggalan sejak zaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras.

Lantas, apa keunikan lukisan berupa gambar telapak tangan manusia dan binatang di dinding tebing tersebut? Meski sudah berabad-abad lamanya, lukisan yang dibuat dengan pewarna dari bahan-bahan alami tersebut masih tetap terlihat jelas hingga saat ini. Warna merah pada lukisan tebing ini juga menyerupai warna darah manusia. Oleh karenanya masyarakat setempat juga sering menyebut lukisan tersebut sebagai lukisan cap tangan darah.

Bagi masyarakat setempat, lokasi lukisan tebing ini merupakan tempat yang disakralkan. Mereka percaya lukisan ini adalah wujud orang-orang yang dikutuk oleh arwah seorang nenek yang berubah menjadi setan kaborbor atau hantu yang diyakini sebagai penguasa lautan paling menakutkan. Nenek ini meninggal saat terjadi musibah yang menenggelamkan perahu yang ia tumpangi.

Dari seluruh penumpang di perahu itu, hanya nenek ini yang meninggal. Konon tak ada satu pun penumpang di atas perahu yang berusaha membantu sang nenek untuk menyelamatkan diri. Merasa sakit hati, arwah nenek yang telah berubah menjadi setan kaborbor mengutuk seluruh penumpang perahu yang berusaha menyelamatkan diri di atas tebing batu. Karena kutukan tersebut seluruh penumpang dan hasil-hasil laut yang dibawa seketika berubah menjadi lukisan tebing.

Di lokasi lukisan tebing ini Anda juga bisa menyaksikan kerangka-kerangka tulang manusia. Kerangka ini dipercaya merupakan kerangka leluhur atau nenek moyang masyarakat Kokas. Pada zaman dahulu masyarakat di sini memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang dianggap sakral.


Tulang tengkorak terdapat di tebing di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Tulang tengkorak manusia ini adalah sisa kebiasaan masyarakat setempat yang tidak menguburkan jazad leluhur melainkan meletakkannya di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang khusus atau dianggap sakral.

Tertarik menelusuri jejak prasejarah di Kokas? Dari terminal Fakfak Anda harus menempuh perjalanan darat menuju Kokas menggunakan angkutan luar kota. Jarak Fakfak-Kokas sejauh 50 kilometer akan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000 per orang, sekali jalan. Tiba di Kokas, perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan longboat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jika air sedang pasang, Anda bisa naik ke tebing dan menyaksikan lukisan ini dari dekat. Namun, jika air surut, keindahan lukisan tebing ini hanya bisa dinikmati dari atas longboat.

MENGUNJUNGI Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat laksana mengunjungi sebuah kota tua. Di wilayah distrik ini terdapat situs kuno yang menyimpan keajaiban dengan misteri di dalamnya. Tak hanya menarik, namun ini juga mengundang orang untuk datang menjumput keelokannya.

Salah satu situs kuno yang terkenal di Kokas adalah lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. Di Distrik Kokas kekayaan peninggalan sejak jaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras.

Lantas apa keunikan lukisan berupa gambar telapak tangan manusia dan binatang di dinding tebing tersebut? Meski sudah berabad-abad lamanya, lukisan yang dibuat mengunakan pewarna dari bahan-bahan alami tersebut masih tetap terlihat dengan jelas hingga saat ini. Warna merah pada lukisan tebing ini juga menyerupai warna darah manusia.Oleh karenanya masyarakat setempat juga sering menyebut lukisan tersebut sebagai lukisan cap tangan darah.

Bagi masyarakat setempat lokasi lukisan tebing ini merupakan tempat yang disakralkan. Mereka percaya lukisan ini adalah wujud orang-orang yang dikutuk oleh arwah seorang nenek yang berubah menjadi setan kaborbor atau hantu yang diyakini sebagai penguasa lautan paling menakutkan. Nenek ini meninggal saat terjadi musibah yang menenggelamkan perahu yang ia tumpangi.


Lukisan tebing yang merupakan situs kuno Kokas di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat

Dari seluruh penumpang di perahu itu, hanya nenek ini yang meninggal. Konon tak ada satupun penumpang di atas perahu yang berusaha membantu sang nenek untuk menyelamatkan diri. Merasa sakit hati, arwah nenek yang telah berubah menjadi setan kaborbor mengutuk seluruh penumpang perahu yang berusaha menyelamatkan diri di atas tebing batu. Karena kutukan tersebut seluruh penumpang dan hasil-hasil laut yang dibawa seketika berubah menjadi lukisan tebing.

Di lokasi lukisan tebing ini anda juga bisa menyaksikan kerangka-kerangka tulang manusia. Kerangka ini dipercaya merupakan kerangka leluhur atau nenek moyang masyarakat Kokas. Pada zaman dahulu masyarakat di sini memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang dianggap sakral.

Tertarik menelusuri jejak prasejarah di Kokas? Dari terminal Fakfak anda harus menempuh perjalanan darat menuju Kokas menggunakan angkutan luar kota. Jarak Fakfak-Kokas sejauh 50 kilometer akan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp. 25.000 perorang, one way.

Tiba di Kokas perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan longboat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jika air sedang pasang, anda bisa naik ke tebing dan menyaksikan lukisan ini dari dekat. Namun jika air surut, keindahan lukisan tebing ini hanya bisa dinikmati dari atas longboat.


Sumber:  radiosuaradogiyaifm.blogspot.com

Jumat, 02 November 2012

Rencana Perluasan Proyek Tangguh Disetujui

                                                                                                                                                                          DOTY DAMAYANTI Proyek Gas Alam Tangguh yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua.
JAKARTA, Sinar papua.com- Pemerintah Indonesia secara prinsip menyetujui rencana pengembangan lanjutan gas alam cair (LNG) Tangguh yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat. Lapangan Tangguh itu dioperatori British Petroleum.
Demikian siaran pers yang diterima Kompas, Jumat (2/11/2012), di Jakarta. Persetujuan itu diumumkan Perdana Menteri David Cameron di London, seusai pertemuan bilateral dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Acara itu dihadiri Chief Executive BP Group Bob Dudley dan Presiden BP Asia Pasifik William Lin.
Pada awal September lalu, BP mengajukan rencana pengembangan lanjutan train 3 Tangguh ke Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas. Persetujuan rencana itu merupakan tahap penting dalam mempersiapkan keputusan akhir investasi untuk ekspansi ini, yang diperkirakan tuntas pada tahun 2014.
Proyek untuk train 3 ini ditargetkan bisa beroperasi secara komersial pada train baru paling lambat tahun 2018. Total investasi untuk train 3 proyek Tangguh itu diperkirakan mencapai 12 miliar dollar AS (7,5 miliar poundsterling).
"Perjanjian ini dengan nilai investasi 7,5 miliar poundsterling merupakan berita besar bagi BP selaku salah satu investor asing terbesar di Indonesia," ujarnya.


Sumber: kompas.com

Kamis, 27 September 2012

Ada Legenda di Balik Cantiknya Danau Sentani

Indahnya Danau Sentani dengan latar Pegunungan Cyclops (Sastri/ detikTravel)

Jayapura - Di Indonesia, sebuah tempat kerap dirundung legenda. Bahkan, legenda-legenda itulah yang kerap menarik minat pelancong untuk datang. Danau Sentani di Papua adalah salah satu buktinya.

Danau Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura, Papua, tak hanya cantik secara fisik. Ada banyak cerita di balik kemolekannya, membuat saru legenda dan sejarah. Saya mendapat kesempatan berkunjung ke danau ini pada Juni 2012 lalu.

Bersama beberapa wartawan yang meliput Festival Danau Sentani 2012, saya ikut dalam Sentani Lake Tour menggunakan kapal mirip pesiar. Ikut pula dalam rombongan, finalis Putra-Putri Papua yang tampan dan cantik. Dipandu oleh dua orang guide, kami berkeliling selama 1,5 jam.

"Danau Sentani terletak di ketinggian 75 mdpl. Panjang danaunya 30 kilometer," tutur Samuel, nama guide yang mulai berbagi informasi kepada para penumpang kapal.

Ada 22 pulau kecil yang tersebar di seluruh danau, terbagi jadi tiga wilayah yaitu timur, tengah, dan barat. 24 Kampung adat yang masuk ke tiga wilayah ini dibedakan berdasarkan dialek bahasa Papua.

Kapal pun melaju, cukup pelan untuk saya menikmati panorama cantik Danau Sentani. Danaunya seakan tak berujung. Hijaunya Pegunungan Cyclops membuat tempat ini seperti di Norwegia sana. Pulau-pulau kecil mulai terlihat, pun rumah-rumah penduduk yang dibangun di pinggir danau.

Samuel pun mulai bicara tentang legenda yang dipercaya masyarakat Sentani. Seluruh penumpang kapal pun memerhatikan, berusaha mencerna tiap kata yang dilontarkannya.

"Ceritanya, orang Papua Nugini sedang menunggang seekor naga. Mereka tiba-tiba terdampar di wilayah ini. Naga mati, tapi penunggangnya berhasil selamat. Mereka buat peradaban. Katanya, kepala naga ada di sebelah timur danau, buntutnya ada di sebelah barat," jelas Samuel.

Rupanya masyarakat setempat percaya kalau leluhurnya berasal dari Papua Nugini. Masuk akal, mengingat orang Papua punya keunikan tersendiri dibanding etnis-etnis lain di Indonesia. Mereka adalah ras Austroloid.

Kemudian dalam pikiran saya terlintas, bagaimana legenda naga bisa sampai ke pulau paling timur itu? Papua tak punya pengaruh China, apalagi Hindu. Namun tiba-tiba pikiran saya buyar mendengar cerita selanjutnya dari Samuel.

"Sentani punya hiu dan barakuda," katanya.

Saya terbelalak. Bagaimana ceritanya dua spesies hewan buas air laut 'nyasar' ke danau berair tawar?

"Hiu dan barakuda datang dari hilir (laut-red). Konon mereka beradaptasi mulai air payau hingga air tawar," jawab Samuel.

Hewan itu adalah Hiu Sentani (Pristis microdon). Apakah ikan-ikan itu masih ada? Samuel mengiyakan. Sayangnya, Hiu Sentani terakhir ditemukan tahun 1990-an. Keberadaannya hilang sampai sekarang.

Tak terasa 1,5 jam berlalu, kapal pun siap bersandar di dermaga Kalkhote tempat kami berangkat. Samuel masih bicara banyak hal tentang Danau Sentani, termasuk mengajarkan kami beberapa kosakata Papua.

"Jangan lupa, masyarakat Sentani itu ramah sekali. Tiap rumah di sini bisa jadi homestay, mereka punya tempat sendiri untuk para tamu. Makanya, wisatawan luar negeri juga tak pernah sungkan untuk berlama-lama di sini," tutup Samuel. (SNRP).


Sumber:  travel.detik.com

Rabu, 08 Agustus 2012

Mumi Wamena (Papua) Vs. Mumi Firaun (Mesir)

MESIR
Mumi adalah sebuah mayat yang diawetkan, dikarenakan perlindungan dari dekomposisi oleh cara alami atau buatan, sehingga bentuk awalnya tetap terjaga. Ini dapat dicapai dengan menaruh tubuh tersebut di tempat yang sangat kering atau sangat dingin, atau ketiadaan oksigen, atau penggunaan bahan kimiawi.

Mumi paling terkenal adalah mumi yang dibalsam dengan tujuan pengawetan tertentu, terutama dalam Mesir kuno. Orang Mesir percaya bahwa badan adalah tempat Ka seseorang yang sangat penting dalam masa setelah hidup. Salah Satu Mumi firaun yang paling terkenal adalah raja Tukankhamen, raja ini terkenal hampir di seluruh budaya di dunia. kutukannya yang misterius bisa dilihat disini. Di Cina, telah ditemukan dari peti mati sipres yang tenggelam dengan menggunakan tanaman obat-obatan.

Mumi yang terbentuk karena kejadian alami, seperti di tempat super dingin (Ötzi manusia es, asam (manusia Tollund) atau kekeringan yang ditemukan di banyak tempat di dunia. Beberapa mumi yang terawet baik dalam kondisi alami bermulai sejak periode Inca di Peru.

 
WAMENA
MUMI Wamena, bisa jadi, tidak sekondang mumi para Firaun Mesir. Namun, sensasinya tak kalah kuat. Apalagi, pengunjung tidak hanya bisa melihat mumi berusia ratusan tahun tersebut. Pengunjung juga diizinkan untuk berfoto dengan mumi yang bentuk beberapa organ tubuhnya masih tampak jelas itu.MUMI

Tak aneh, desa tempat mumi tersebut seolah menjadi lokasi yang wajib dikunjungi oleh siapa saja yang ke Wamena. Sebut, misalnya, Mumi Wim Motok Mabel di Desa Yiwika, Distrik Kurulu, Wamena, Papua.

Untuk mencapai Wamena, pengunjung dari luar Papua harus transit dulu di Bandara Sentani, Jayapura. Dari Sentani, kita harus menggunakan pesawat udara lagi. Sebab, sampai saat ini jalur udara itulah satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk mencapai Wamena.

Tiket pesawat Jayapura-Wamena Rp 880 ribu per orang. Tidak terlalu mahal, mungkin. Tapi, mendapatkannya tidak mudah. Maklum, pesawat yang tersedia terbatas.

Setelah dapat tiket pun, belum bisa dipastikan kita akan sampai di Wamena. Masih ada penentu lain. Cuaca. Untuk mencapai Wamena, pesawat harus melalui celah di antara dua bukit. “Bila cuaca sedang tidak bagus sehingga celah itu berkabut, pesawat biasanya kembali ke Bandara Sentani,” tutur seorang calon penumpang di Bandara Sentani. Mendebarkan? Mereka yang gemar bertualang mungkin menganggapnya mengasyikkan.
Tiba di Bandara Wamena, tinggal pilih, mau langsung ke perkampungan tempat mumi berada atau beristirahat dulu.

Bila mau langsung menuju lokasi, kita bisa memanfaatkan jasa taksi bandara. Tarifnya Rp 100 ribu per jam atau Rp 800 ribu per hari. Bila pengunjung ingin beristrahat dulu, di sekitar Bandara ada hotel dan penginapan. Tarif terendah Rp 250 ribu per hari.

Perkampungan mumi di Distrik Kurulu, Jaya Wijaya, berjarak sekitar 30 kilometer atau 25 menit perjalanan dari Kota Wamena. Sepanjang perjalanan, mata seolah dimanjakan dengan pemandangan alam terbuka yang berbukit-bukit dan menawan.

Lalu, wow! Sekitar 15 menit perjalanan, menjelang memasuki desa tempat mumi berada, di kiri jalan tampak bukit dengan hamparan putih di sekelilingnya. Salju? Bukan. Hamparan putih itu pasir. Tapi, memang, pasir itu terlihat putih sekali.

Setelah 25 menit perjalanan, sampailah kita tiba di kampung mumi. Perkampungan itu dihuni 20 kepala keluarga. Di bagian depan perkampungan ada pintu masuk yang hanya dibuka saat ada tamu.

Begitu kami masuk halaman perkampungan, mereka langsung menyambut kami dengan ramah. Yang perempuan mengenakan sali (rok dari kulit kayu), sedangkan yang laki-laki memakai koteka. Kesan primitif sangat terasa. Namun, ada yang bilang bahwa mereka sebetulnya sudah berkain seperti kita sehari-hari. “Tapi, mereka langsung buka baju begitu tahu ada pengunjung,” kata seorang teman yang asli Wamena.

Lingkungan di perkampungan itu juga masih terkesan alami. Di kiri kanan tampak honai, rumah tempat warga tinggal. Di salah satu honai itulah mumi Wim Motok Mabel disimpan.

Mau melihat mumi? Boleh. Tapi, harus nego dulu sebelum mereka mau mengeluarkan mumi tersebut dari honai. “Ada tarifnya. Biasanya pengunjung harus bayar Rp 25 ribu. Katanya sih untuk biaya perawatan,” kata teman tadi.

Menurut Batu Logo, salah seorang warga yang tinggal di perkampungan tersebut, Mumi Wim Motok Mabel adalah generasi ketujuh. Usianya saat ini 368 tahun. “Dia (Wim Motok Mabel, Red) adalah kepala suku perang. Menurut cerita orang tua kami, sebelum meninggal beliau berpesan agar mayatnya tidak dibakar. Beliau minta mayatnya diawetkan agar jasadnya bisa dilihat generasi berikutnya,” kata Batu Logo.

Meski telah berusia 368 tahun, sebagian bentuk tubuh mumi itu masih sangat jelas. Terutama kepala, badan, dan kaki. Bahkan, kotekanya pun masih terlihat. “Untuk menjaga agar tidak rusak termakan usia, mumi itu dirawat secara tradisional dengan pengasapan dan pengolesan lemak babi ke seluruh tubuh mumi,” terang Batu Logo.

Mau berfoto bersama Mumi, bisa. Tapi, lagi-lagi ada tarifnya. Bahkan, berfoto dengan warga setempat yang mengenakan pakaian tradisional pun, kita harus bayar. “Seorang Rp 5 ribu untuk sekali jepretan,” kata Batu Logo.

Bahkan, di depan salah satu honai, tampak pondok yang memajang hasil kerajinan tangan warga. Kotega berbagai jenis dan ukuran terlihat bergantungan di sana. Ada juga noken, kalung, gelang, dan beragam kerajinan tangan lain. Harganya juga bervariasi. Tapi, jangan dulu berpikir “serbu”, serba lima ribu. Kerajinan tangan di kios suvenir itu berharga Rp 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah.


Sumber:  viva.co.id

Jumat, 27 Juli 2012

Evakuasi Paus Terdampar di Karawang Dimulai Pagi ini

Foto: Jakarta Animal Aid Network
Jakarta; (Sinar Papua)- Proses evakuasi Paus sperma yang terdampar di Pantai Pakis Jaya, Karawang, akan dimulai pagi ini. Kapal tug boat bantuan Pelindo juga sudah bersiaga di lokasi.

"Kita akan mulai pukul 08.00 WIB untuk proses evakuasi, diharapkan lancar sesuai rencana," kata Kapolsek Pakis Jaya AKP Abdul Kodir, saat dihubungi detikcom, Sabtu (28/7/2012).

Selain dibantu 1 kapal tug boat dan 2 kapal nelayan, proses evakuasi tersebut juga akan dibantu oleh 5 penyelam. kelima penyelam itu akan membantu proses pengaitan tali kepada paus yang kondisinya semakin melemah itu.

"Ada 5 penyelam yang akan mengaitkan jaring dan akan mengawasi proses di dalam air," ujarnya.

Saat ini seluruh relawan sedang melakukan persiapan untuk menarik paus sepanjang 8 meter, dan lebar 2 meter itu. "Kita semua sedang bersiap, mohon doa nya suapaya rencana ini berhasil," harap Abdul.


Rivki -Sinar Papua
Sumber: detikNews

Minggu, 08 Juli 2012

Wisata Alam Papua Barat Memikat Mata Dunia

Wisata Alam Papua Barat Memikat Mata Dunia
Kekayaan lautnya yang sangat luas semakin tampak menarik dengan pemandangan berbagai jenis karang, ribuan spesies ikan yang hidup di dalamnya serta beragam biota laut lainnya yang tinggal di gugusan pulau tersebut. Biasanya para wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat tidak akan melewatkan kesempatannya untuk bisa diving maupun snorkeling untuk menikmati pemandangan dasar laut, atau sekedar menikmati keindahan alam pantai pasir putih yang disuguhkan wisata unggulan di Provinsi Papua Barat tersebut.
Berbicara mengenai potensi daerah di provinsi paling timur Negara Indonesia, memang seakan tak bisa lepas dari pesona alamnya yang berhasil memikat mata dunia. Berbagai macam objek wisata alam di Papua Barat memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun turis mancanegara, sehingga tidak heran bila belakangan ini banyak orang yang mengibaratkan keindahan alam di Papua Barat sebagai salah satu surga dunia di Indonesia.
Terletak diantara 0 – 4° Lintang Selatan dan 124 – 132° Bujur Timur, Papua Barat terdiri dari 8 daerah kabupaten dan satu daerah kotamadya. Meliputi Kabupaten Fak-fak, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Sorong, Kabupaten Raja Ampat, dan Kotamadya Sorong. Dengan menjadikan Manokwari sebagai Ibu Kota Provinsi, saat ini sedikitnya ada 103 kecamatan, 47 desa, dan 1.153 kampung yang tercatat secara administratif di wilayah provinsi Irian Jaya Barat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Papua Barat.
Nah, untuk mengenal lebih dekat wisata alam di Papua Barat, berikut ini kami informasikan tiga objek wisata unggulan yang ada di sekitar daerah tersebut.

Pesona Perairan Raja Ampat

Raja Ampat merupakan nama pemberian yang berasal dari mitos masyarakat setempat. Nama tersebut diberikan untuk empat pulau besar yang merupakan penghasil lukisan batu kuno, meliputi Pulau Waigeo, Salawati, Batanta, dan Misool.
Tidaklah heran bila pesona alam bawah laut yang dimiliki Raja Ampat disebut-sebut sebagai salah satu pemandangan terbaik di tingkat mancanegara, sehingga wajar adanya bila sekarang ini tidak hanya wisatawan lokal saja yang berduyun-duyun mengunjungi tempat tersebut, namun juga berhasil memikat para wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Taman Wisata Alam Gunung Meja

Selain Raja Ampat yang menjadi icon unggulan bagi pariwisata di Papua Barat, ada juga wisata alam Gunung Meja yang terletak di tengah-tengah kota Manokwari. Disebut sebagai Gunung Meja, karena puncak taman wisata alam tersebut terlihat datar menyerupai sebuah meja. Pemandangan datar yang dimaksudkan diperoleh dari sekumpulan pohon yang memiliki ketinggian serta tingkat kerapatan hampir sama, sehingga bila dilihat dari jarak yang cukup jauh akan terlihat seperti sebuah meja yang datar.
Selain dijadikan sebagai tempat rekreasi, taman wisata alam Gunung Meja ini juga berfungsi sebagai hutan lindung. Berbagai macam flora hutan tropis dengan bentuk yang unik siap memanjakan para pengunjung yang berada di obyek wisata tersebut. Jadi, tidak salah bila banyak wisatawan yang semakin penasaran untuk melihat kekayaan alam Gunung meja, sebab selain bisa menikmati suasana hutan yang masih asri, pengunjung juga memiliki kesempatan untuk menikmati indahnya pemandangan Kota Manokwari dari puncak ketinggian.

Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Objek wisata alam yang tidak kalah terkenal yaitu Taman Nasional Teluk Cendrawasih yang terletak di Kabupaten Teluk Wondama. Tak kalah indah dengan pesona wisata alam Raja Ampat maupun Gunung Meja, pemandangan disana menghadirkan wisata alam bahari, gua kuno yang terdapat di Pulau Mioswaar, serta menghadirkan atraksi ikan paus dan lumba-lumba di Pulau Yoop dan perairan Windesi.
Tidak hanya itu saja pemandangan yang bisa Anda nikmati, di Pulau Rumberpon Anda bisa melihat langsung pesona aneka macam burung serta rusa yang hidup di pulau tersebut. Bahkan Anda bisa juga melakukan aktivitas diving untuk melihat langsung pesawat militer yang tenggelam di dasar laut.
Banyaknya potensi wisata alam di Papua Barat kini tidak hanya memberikan sebuah kebanggaan tersendiri bagi warga setempat, namun juga membantu Pemerintah Daerah untuk meningkatkan perekonomi di wilayah Papua Barat. Semoga informasi wisata alam Papua Barat memikat mata dunia ini bisa menginspirasi seluruh masyarakat di penjuru nusantara untuk bisa mengembangkan potensi yang ada di daerahnya masing-masing. Manfaatkan potensi di sekitar Anda, dan ciptakan peluang sukses bagi Anda. Salam sukses.