Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2012

Spesies Ikan Purba Ditemukan di Perairan Papua

Ilustrasi
(Sinar Papua) -Biak: Wilayah perairan laut sepanjang Kampung Opiaref, Kabupaten Biak Numfor, Papua, berdasarkan hasil penelitian ilmuwan Jepang, ditemukan habitat hidup spesies ikan purba Kolakan.

"Ikan purba ini berukuran besar hidup ratusan tahun silam dan masih dapat dilihat di wilayah perairan Opiaref, Distrik Oridek, hingga sekarang," ujar Bupati Biak Yusuf Melianus Maryen di Biak, Selasa.

Ia mengakui, jika wilayah ikan purba Kolakan itu dikemas sebagai objek pariwisata bahari maka bisa menarik minat turis mancanegara untuk melihat langsung kehidupan alam laut ikan tersebut.

Pemkab Biak, lanjut Bupati Maryen, sangat berterima kasih dengan ilmuwan Negeri Sakura yang telah melakukan studi potensi kelautan di wilayah Kepulauan Biak Numfor.

"Untuk menghidupkan bidang pariwisata bahari di perairan Biak berupa menyelam, memancing dan snorkling maka habitat hidup ikan purba bisa menjadi daya tarik wisatawan unggulan," katanya.

Untuk retribusi penerimaan daerah dari sektor pariwisata, menurut Maryen, pendapatan di bidang ini masih terbatas karena minimnya investor memanfaatkan potensi pariwisata bahari yang dimiliki Biak.

"Pemkab telah membuat regulasi perlindungan sumber daya alam Pulau Biak sebagai komitmen pemerintah menjaga keaslian dan keberagaman sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat," kata Bupati Maryen.

Berdasarkan data kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara di Kabupaten Biak Numfor setiap tahunnya mencapai 15 ribuan wisatawan.(Ant/RZY)

Sumber:  metrotvnews.com

Kamis, 29 November 2012

Tiga polisi Papua tewas diserang di Pirime Jayawijaya

Polisi Papua mengkhawatirkan munculnya
kerusuhan pada peringatan 1 Desember.
(Sinar Papua)- Tiga polisi di Markas Polsek Pirime, termasuk Kapolsek, Jayawijaya Papua tewas akibat serangan sekelompok orang tak dikenal pada Selasa sekitar pukul 05:00 waktu setempat (pukul 03:00 WIB).
Serangan itu diduga dilakukan oleh kelompok yang selama ini diburu polisi dan berpusat di sekitar Wamena dan Nabire.

"Kami sebenarnya sudah identifikasi ini daerah-daerah rawan, bahkan kami sedang menyiapkan tambahan bantuan pasukan Brimob ke lokasi," kata Kepala Badan Reserse dan Kriminal Umum Polda Papua, Komisaris Besar (Pol) Wachjono kepada Wartawan BBC Indonesia, Dewi Safitri.
Selain membunuh aparat, polisi juga mendapati penyerang mengambil senjata dan lari ke wilayah lembah Pirime yang sulit dijangkau dengan kendaraan.
"Memang modusnya kelompok separatis yang kita catat selama ini seperti itu, serang dan ambil senjatanya," tambah Wachjono.
Polisi Papua menyiapkan kewaspadaan lebih beberapa waktu terakhir, menjelang datangnya 1 Desember yang secara tradisional diperingati sebagai hari kemerdekaan kelompok pro negara Papua.
Nyaris bersamaan dengan peristiwa serangan hari ini, satu kompi Brimob bantuan dari Mabes Polri juga baru saja dikirim ke Papua.
"Pasukan bantuannya datang tapi keburu ada kejadian ini," sesal Wachjono.


'Lengah'

Penembakan dan penyerangan aparat di Papua terutama marak terjadi di lokasi terpencil, kawasan gunung atau lembah yang sebagian sulit dijangkau kendaraan.
"Distrik Pirime ini bisa didatangi dengan mobil tapi menuju Polsek (yang diserang) harus jalan kaki lagi berkilo-kilo meter," kata Wachjono.
Serangan sebelumnya menewaskan Brigadir Yohan Kisiwaitouw seorang anggota Polres Paniai pada bulan Agustus, sementara anggota Polres Tolikara Bripda Jefrry L Runtoboy tewas ditembak orang tak dikenal di Distrik Wenan, Wamena September lalu.
"Kita sudah identifikasi memang ini titik konsentrasi kelompok pengacau keamanan, makanya ada seruan khusus pada Polres dan Polsek siaga 24 jam," tegas Wahjono.
Yang terjadi di Pirime dalam insiden serangan terakhir Selasa pagi, menurutnya adalah bentuk 'kelengahan' petugas.
"Memang ini sulitnya, sudah siaga berjam-jam, lengah cuma beberapa jam lalu diserang sehingga kecolongan  "Kombes Pol Wachjono
"Memang ini sulitnya, sudah siaga berjam-jam, lengah cuma beberapa jam lalu diserang sehingga kecolongan."
Kapolda Papua Inspektur Jendral (Pol) Tito Karnavian, yang baru tiga bulan menempati jabatan ini setelah sebelumnya aktif berdinas dalam tim pemburu terorisme kepolisian dan BNPT, bersama sejumlah pejabat siang ini mendatangi lokasi kejadian.
Selain peringatan 1 Desember, sekitar 14 ribu aparat kepolisian juga menghadapi ancaman keamanan dari proses pemilihan kepala daerah Papua yang akan segera berlangsung.
Pada 13 Desember mendatang, KPUD Papua akan mengumumkan hasil verifikasi calon gubrenur dan wagub, yang dikhawatirkan berpotensi menciptakan gangguan keamanan.

Sumber:  bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia

Senin, 26 November 2012

Polsek di Papua diserang, Kapolsek dan anak buahnya tewas

Polisi patroli. AFP
Mapolsek Pirime, Kabupaten Lany Jaya, Provinsi Papua, ditembaki oleh sekelompok orang, Selasa (27/11) dini hari. Akibatnya, dua anggota polisi tewas dan satu lainya hilang.

Seperti dilansir Antara, salah seorang anggota polisi yang tewas adalah Kapolsek Pirime berinisial T dan anggota lainya berinisial JR. Sementara, seorang anggota lainya berinisial DM masih dalam pencarian.

Kabid Humas Polda Papua, AKBP I Gede Sumerta Jaya ketika dikonfirmasi terkait informasi tersebut mengaku belum mendapatkan data lengkap.

"Iya, saya belum dapat konfirmasi, data yang lengkap dari sana," katanya.

Menurut dia, meskipun Polsek Pirime secara administrasi masuk dalam kabupaten Lany Jaya, tetapi untuk wilayah hukum dan kerjanya masih menyatu dengan Polres Jayawijaya.

"Jika saya sudah dapat informasi yang jelas, akan saya sampaikan," katanya.


Sumber:  merdeka.com 

Selasa, 20 November 2012

10 Toko di Pasar Oyehe Nabire Papua Terbakar

ilustrasi kebakaran (lst)
Nabire -  Sekira sepuluh toko di kompleks Pasar Oyehe, Kabupaten Nabire, Papua, ludes terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Kobaran api menjalar dengan cepat ke setiap toko. Persediaan air yang tidak cukup, serta akses masuk yang sempit, membuat mobil pemadam kebakaran Pemkab Nabire terlambat tiba di lokasi kebakaran. Api yang cepat menjalar tak dapat segera dipadamkan, sehingga pemilik toko hanya berupaya menyelamatkan barang-barang seadanya.

Menurut saksi mata, kebakaran diakibatkan oleh sampah yang dibakar di depan pintu salah satu toko di dalam pasar.(DSY/Metrotvnews.com)

Jumat, 16 November 2012

Soal Perampokan Calon Gubernur Papua, Polisi Belum Terima Laporan

Ilustrasi perampokan (sumber:
yudifingernote.wordpress.com)
Bakal calon (balon) GUbernur Papua Ruben Marey dirampok. Uang 1 juta dolar raib digondol pelaku.

Pihak Polda Metro Jaya mengaku belum menerima laporan terkait kasus dugaan perampokan yang menimpa bakal calon (balon) Gubernur Papua, Ruben Marey (43). Seperti diketahui, sebelumnya kepada media massa, korban mengaku uangnya US$1 juta raib digondol pelaku.

"Ya, memang sudah ada pemberitaan di media, terkait kasus perampokan terhadap Ruben Marey. Ia menceritakan di media dirampok 1 juta dolar, di parkiran Bank Mandiri, Jalan Gatot Soebroto, Selasa lalu," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid HUmas) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar (Pol) Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Jumat (16/11).

Rikwanto menegaskan, belum ada laporan polisi terkait kasus itu yang diterima oleh Polda Metro Jaya.

"Kami cari catatan laporan di SPK Polres wilayah Polda Metro Jaya, belum ada laporan terkait itu. Tak ada, baik di Polda dan di Polres," tegasnya.

Rikwanto berharap, pihak korban mau segera membuat laporan, agar bisa langsung ditelusuri dan diselidiki.

"Supaya segera bisa diusut, yang bersangkutan diharapkan segera melaporkan, agar bisa kita telusuri. Baik (tentang) pelaku, disekap di mana, disetor ke mana uangnya, dan lainnya. Polisi tetap selidiki, namun bukan penyidikan. Kami belum bisa sampaikan lebih jauh. Sejauh ini, informasi didapat dari media," katanya.

Menyoal mengapa korban urung melaporkan kejadian dugaan perampokan itu, Rikwanto mengatakan bahwa berdasarkan keterangan di media, yang bersangkutan mau mendaftar menjadi balon Gubernur Papua dulu.

"Di media dikatakan mau daftar dulu menjadi balon Gubernur Papua. Kami harapkan, setelah daftar, segera melapor. Kalau makin lama lapor, pelaku semakin jauh. Kami harapkan segera lapor," terangnya.

Terkait apakah polisi sudah memeriksa nomor pelat mobil pelaku, Rikwanto mengungkapkan bahwa polisi belum memeriksanya. Pasalnya menurutnya, nomor pelat yang diketahui itu tak lengkap.

"Belum periksa pelat mobil, karena tak ada buntutnya. Kalau lengkap, (kita) bisa dilakukan penyelidikan," tandasnya.

Berdasarkan keterangan korban, kronologis kejadiannya bermula ketika dirinya mengambil uang di salah satu bank di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, sebesar US$1 juta, Selasa (13/11).

Kemudian, ia mengaku berniat menyetorkan sebagian uangnya itu di Bank Mandiri, di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Namun, setelah turun dari taksi, tiba-tiba tiga orang mendekatinya dan menempelkan senjata api di lehernya.

Selanjutnya, pelaku memaksa korban untuk masuk mobilnya, sambil meminta secara paksa dua telepon genggam dan uang korban. Pelaku sempat membawa korban ke sebuah apartemen di kawasan Jakarta Barat. Di apartemen itu korban disekap, namun tidak disiksa.

Lalu, korban pun meminta pelaku untuk melepaskan dirinya dan dilepaskan. Pelaku sempat mengancam korban agar tak melaporkan kejadian ini.

Sumber:  beritasatu.com

Minggu, 04 November 2012

Penindasan dan Diskriminasi Wajib Dilawan

Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai
Manokwari ; (Sinar.Papua)- Sirajuddin, peserta Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai di Manokwari, Papua Barat mengatakan, penindasan dan diskriminasi terhadap siapa saja, wajib dilawan.
“Saya ingin mengajak kita melihat manusia secara universal, hemat saya, kita terbiasa melihat manusia dengan kotak suku dan wilayah,” kata Sirajuddin, pekan lalu.
Ia mengatakan, penindasan dan diskriminasi merupakan penyakit bangsa. “Dimana kita melihat manusia dengan kotak suku dan agama, saya pikir agama manapun menyerukan agar tidak melakukan cara seperti itu,” ujarnya.
Menurut dia, penindasan di Papua wajib ditentang. Kecemburuan tercipta akibat salahnya sistem yang tidak membuat rekognisi bagi orang Papua. “Permasalahan sekarang ini timbul dari kecemburuan antara pendatang dan pribumi,” paparnya.
Baginya, salah jika hanya melihat rakyat sebagai obyek. “Hari ini rakyat cukup menderita. Boro-boro biaya untuk masuk sekolah, untuk makan satu hari saja belum tentu.”
Kesenjangan bukan saja dialami orang Papua. Tapi semua, karena penindasan oleh sistem yang dibuat oleh negara. “Pemerintah tidak pernah berpihak pada rakyat,” ujarnya lagi.
Muridan Satrio Widjojo, koordinator Jaringan Damai Papua mengatakan, perjuangan untuk Papua, bukan karena orang Papua semata, tapi harus diletakkan sebagai perjuangan buat kaum minoritas yang diperlakukan tidak adil.
“Artinya, yang dilakukan bukan melihat ras, tapi melihat karena diperlakukan tidak adil. Oleh karena itu, kotak Papua dan pendatang bukan problem, bukan problem antara etnis tapi problem ketidakadilan,” jelasnya.
Ia berharap, setiap komunitas etnis, selain sibuk mengurus paguyuban, juga perlu melihat berbagai ketidakadilan.
Ketika Papua atau pendatang jadi korban kekerasan, maka itu akan menjadi bagian dari pelanggaran HAM. “Orang Papua juga merasa dibela. Pembelaan bukan saja dari segi politik tapi juga interaksi dan transformasi ketrampilan di bidang ekonomi,” pungkasnya. (Snrp/you).


Sumber:  aldp-papua.com 

Selasa, 23 Oktober 2012

Demo KNPB di Manokwari, 11 Ditangkap Dua Polisi Terluka

PENANGKAPAN DEMOSNTRASI DI MANOKWARI. (ANIS DOSANTOS/FB)
(Sinar Papua); Jayapura, (23/10) — Sebanyak 11 orang ditangkap pihak Kepolisian di Manokwari dalam unjuk rasa yang digelar massa Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di Jalan Gunung Salju Amban, depan Kampus Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat, Selasa (23/10).

Dari data yang diperoleh tabloidjubi.com menyebutkan, selain 11 orang ditangkap dalam aksi demo itu, juga delapan orang dikabarkan terluka, empat diantaranya karena luka tembak dan dua polisi terkena lemparan batu. Wartawan pun dilarang meliput aksi demo tersebut.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, AKBP I Gede  Sumerta Jaya saat dikonfirmasi membenarkan adanya penangkapan tersebut. Tapi mengaku tak ada orang yang terkena tembak. “Awalnya massa yang berjumlah sekitar 100 orang long march dari Amban ke Lapangan Borarsi. Mereka lalu dihadang polisi di Amban, sehingga massa hanya berorasi di depan Kampus Unipa. Tapi situasi memanas dan massa melempari polisi dengan batu, sehingga dua polisi terkena lemparan batu yakni Briptu MGE dan Brigpol RY. Polisi lalu membubarkan massa dan menangkap 11 orang, tapi kami tak mendapat informasi kalau ada massa terkena tembakan,” katanya, Selasa (23/10).

Menurut Gede, 11 orang yang diamankan, yakni FM, Aw,OA, DA, DM, ET, PP, OM, YD, KJ dan AM. Polisi juga mengamankan barang bukti empat bendera KNPB dan dua bendera PBB. Tapi tak ada pengibaran Bendera Bintang Kejora.

Untuk menindak lanjuti informasi yang menyebutka empat orang terkena tembakan, lanjut dia, Polda Papua akan menurunkan tim Propam Polda Papua berjumlah tiga orang yang dipimpin seorang berpangkat AKBP. “Besok kami akan turunkan tim dari Propam ke Manokwari untuk menindak lanjuti informasi yang katakan ada yang terluka karena tembak. Kita juga akan konfirmasi di lapang apakah ada anggota yang bertugas di lapangan bersenjata,” jelasnya.

Selain itu,  Gede juga mengkonfirmasi informasi yang menyebutkan hari ini ada pertemuan IPWP di London Inggris yang membahas masalah Papua. “Jadi pertemuan IPWP di London Inggris itu tak benar. Kami sudah berkoordinasi dengan Kedutaan KBRI di London, Arif Nugroho dan mereka katakan tidak ada rapat besar membahas Papua di Parlemen Inggris. Memang ada tapi itu hanya orolan warung kopi saja antara dua atau tiga orang,” katanya.

Sementara itu di Jayapura, aksi demo yang direncanakan KNPB akhirnya tidak jadi setelah adanya pendekatan persuasif dari pihak kepolisian. (Snrp/you)


Sumber: tabloidjubi.com 

Rabu, 17 Oktober 2012

Polisi Buru Pembunuh yang Gorok 2 Polisi di Poso

Ilustrasi
Jakarta Polisi memburu pelaku yang membunuh Briptu Andi dan Brigadir Sudirma dengan sadis di Poso, Sulteng. Diduga kuat, motif pelaku terkait aksi teror. Para pelaku menyasar anggota kepolisian sebagai korban.

"Kita masih telusuri, pelakunya belum ketangkap. Baru kita perdalam, kita masih melakukan penyelidikan," jelas Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto saat dikonfirmasi, Rabu (17/10/2012).

Agus menjelaskan kedua polisi yang ditemukan dengan luka sayatan di tubuh dan di leher itu, sudah hilang selama 8 hari. Jasad keduanya ditemukan di sebuah lubang pada Selasa (16/10).

"Kita peroleh info ada kejanggalan di lokasi. Ada 1 buah helm dan gundukan tanah baru di lokasi galian. Info tersebut ditindaklanjuti aparat gabungan Brimob, Polres, dan bantuan TNI. Akhirnya digali dan betul satu lobang ditemukan dua jenazah yang dikubur secara tertumpuk, satu lubang 2 mayat. Hasil identifikasi sementara di lapangan, diketahui 2 jenazah itu betul anggota Polri atas nama Brigadir Sudirman dan Briptu Andi Sapa. Sudirman anggota Polres Poso, Andi Sapa anggota Polsek Pesisir di bawah Polres Poso," terangnya.

Agus menjelaskan lokasi penemuan mayat itu memang lokasi latihan pelaku teror di Poso. "Memang data yang ada, lokasi tersebut salah satu yang dianggap lokasi latihan para pelaku tindak kriminalitas terkait teror, kita peroleh itu dari info beberapa tersangka yang kita tangkap. Kita olah terus info itu," jelas Agus.

Kedua petugas itu sedang bertugas melakukan penyelidikan. Mereka memang tidak memakai seragam. Polisi sekarang masih melakukan penelusuran dari saksi-saksi dan juga olah tempat kejadian perkara.(Snrp/you).


Sumber:  detikNews

.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Aktivis: Warga sipil Papua sengaja ditembak oleh polisi

Marthen Goo
Aktivis HAM pada 04/10/2012 mengatakan, berita tentang kontak senjata antara warga Papua dan polisi di Nabire, Papua pada Senin (24/9) yang menewaskan Kristian Belau, warga sipil berusia 21 tahun akibat luka tembak di bagian paha merupakan sebuah pembohongan publik yang sengaja disebarkan oleh polisi.
“Kejadian sebenarnya adalah polisi yang menembak, bukan karena kontak senjata antara polisi dan kelompok sipil bersenjata”, kata Marthen Goo, Koordinator National Papuan Solidarity (NAPAS) kepada ucanews.com.
Menurut Goo, polisi masih terus memelihara kebiasaan untuk mengkambinghitamkan warga sipil.
“Polisi terus-terusan saja bohong. Tidak benar, ada kontak senjata. Korban tidak punya senjata kok dibilang ada kontak senjata”, kata Goo, yang mengaku telah mendapat laporan dari anggota timnya yang menyelidiki kasus ini.
Sebelumnya, polisi menyebutkan bahwa mereka tidak bisa menghindari aksi saling tembak dengan kelompok sipil bersenjata, dan Kristian Belau tewas tertembak, setelah sebelumnya ada anggota polisi yang terkena tembakan.
“Karena anggota ditembaki, akhirnya saling tembak tidak bisa dihindari, satu orang kelompok bersenjata….. berhasil ditembak di bagian paha kiri. Sementara anggota kelompok bersenjata lainnya berhasil melarikan diri masuk hutan sambil terus menembaki polisi dengan senjata api jenis Revolver dan SS1,” jelas AKBP  I Gede Sumerta Jaya kepada media lokal pada Sabtu (24/9).
Goo mengatakan, penyataan ini tidak bertanggungjawab dan salah fatal.
Ia menjelaskan, tempat terjadinya kontak senjata yang diklaim polisi terjadi di Urumusu, terletak 45 kilometer dari tempat kejadian sebenarnya, yaitu di Kampung Gerbang Sadu, Nabire.

“Kami tidak tahu harus melapor kepada siapa lagi terhadap pembohongan seperti ini. Kami sudah kehabisan kepercayaan kepada penegak hukum, seperti polisi. Bagaimana mungkin kami melapor kepada mereka sementara mereka adalah pelaku”, tegas Goo.
Goo menjelaskan, kasus ini menambah daftar makin banyak kasus penembakan warga sipil yang dilakukan secara sengaja, namun diklaim polisi sebagai akibat dari kontak senjata.
Sebelumnya, pada Juni terjadi kasus penembakan aktivis Papua, Mako Tabuni yang dianggap sebagai anggota separatis dan melawan saat hendak ditangkap, namun temuan sejumlah aktivis mengatakan, Tabuni sengaja ditembak oleh oknum polisi dan ia bukan merupakan anggota separatis seperti yang dituduhkan.
Sementara itu, hari ini, The Asian Human Rights Commission (AHRC) juga mengeluarkan sebuah “pesan penting” meminta partisipasi publik untuk mendesak pemerintah menangani kasus ini dengan mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kapolri Timur Pradopo, Polda Papua Titio Karnavian, Kapolres Nabire Mohammad Rois, Direktur Bidang HAM Kementarian Hukum dan HAM Harkristuti Harkrisnowo serta Ketua Komnas HAM Ifdal Kashim
“Aparat yang menembak Kristian Belau harus diberi sanksi sesuai hukum yang berlaku”, demikian pernyataan AHRC yang dirilis di website resmi mereka.
Ryan Dagur, Jakarta
 
Sumber: ucanews.com

Semalam, Banjir Terjang Entrop

Banjir yang melanda kawasan Entrop pada Jumat (05/10) malam
JAYAPURA—Banjir lagi-banjir lagi. Tadi malam Jumat (05/10) sekitar pukul 20.30 WIT kawasan Entrop di depan Kantor kelurahan Entrop, tepatnya jembatan Sumber Air dilanda banjir. Menurut keterangan beberapa masyarakat yang ditanyai Bintang Papua di sekitar lokasi, kejadian ini terjadi secara tiba-tiba.
Diki Supusepa, salah satu warga yang tinggal di dekat lokasi kejadian mengatakan bahwa Banjir yang datang cukup mengaggerkan masyarakat, hal ini disebabkan beberapa menit sebelumnya lokasi tersebut masih aman-aman saja, hanya tampak sedikit genangan air, namun tiba-tiba genangan air terus meninggi hingga selutut orang dewasa.
Bahkan beberapa kendaraan roda dua yang coba menerjang  dikatakannya sempat terjatuh terkena arus air yang berasal dari Kali Entrop yang cukup deras, dan setelahnya kendaraan l;ain memilih menunggu untuk lewat hingga genangan air menurun.
Dari pantauan Bintang Papua di lapangan terlihat tumpukkan kendaraan ke arah Skyland  terjadi hingga tanjakan Pemda I Entrop.
Teis Wandosir, seorang Supir Ambulan yang juga terperangkap tumpukkan kendaraan mengaku dirinya tidak berani melewati genangan air karena takut kendaraannya mogok. “Air terlalu tinggi dan arusnya deras, kalau saya lewat takut mbil macet, Truk saja ga berani lewat,” imbuhnya yang hanya pasrah menunggu keadaan membaik.
Dari pantauan di lapangan hingga pukul 21.47 WIT keadaan belum juga membaik, bahkan beberapa kali hujan sempat kembali turun. Dan hingga pantauan berakhir belum terlihat petugas yang berkompeten untuk mengendalikan ataupun mengamankan keadaan terlihat di lokasi banjir.  Di Kawasan kali samping SMA 4 Air sudah naik 2 meter, hanya tinggal beberapa cm  lagi dari batas pinggiran sungai. Warga terlihat waspada dan berjaga-jaga karena khawatir bila air akhirnya meluap dan menyebabkan banjir. Bahkan sebagain daerah  di kompleks  SMA 4 sudah tergenag walau sebatas mata kaki  orang dewasa. Sedangkan kompleks assalam digenangi air sekitar 20 cm . Sementara jalan Entrop yang tadinya banjir pada pukul 23.30 sudah bisa dilewati. Hanya lumpur yang terbawa  air  memenuhi badan jalan. Tampak juga aparat dari POlsek Jayapura Selatan berjaga-jaga di kawasan tersebut.
Belum ada pihak yang bisa dimintai keterangan, namun kemungkinan besar Banjir terjkadi karena turunnya hujan yang deras selama kurang lebih 30 menit, dan hujan susulan yang terjadi pun cukup deras walau tidak sebesar hujan sebelumnya. 
Sementara itu juga dari lokasi  Perkemahan Waena, juga didapatkan infrormasi , akibat hujan tadi malam sejumlah tenda perserta Raimuna sempat kemasukan air.  Akibatnya,  para peserta Raimuna yang sudah berada di tenda, terpaksa harus berlarian ke gedung utama untuk berlindung.  (ds/don/l03)

Sumber: bintangpapua.com 

Semarak HUT TNI Tinggalkan Duka Usai Upacara, Kadis Ops Lanud Jayapura Meninggal Dunia

Atraksi tari kecak yang menampilkan tokoh legendari Hanoman, yang tampil dalam HUT TNI ke-67 di Lapangan Phokela Cenderawasih, Waena, Jumat (5/10).
SENTANI—Semarak HUT TNI ke-67 yang jatuh pada tanggal 5 Oktober 2012 ini meninggalkan duka tersendiri bagi jajaran Lanud Jayapura. Pasalnya, usai mengikuti upacara HUT TNI ke-67 di Bumi Perkemahan (Buper) Waena, Kadis Ops Lanud Jayapura Letkol Pnb Wellem Anton Mengko menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Dian Harapan Waena,  karena mengalami sesak napas pada pukul 14.10 WIT.
Komandan Lanud (Danlanud) Jayapura Kolonel Pnb Diyah Yudanardi mengatakan kronologis kejadiannya,  terjadi seusai melaksanakan upacara di Buper Waena, Kadis Ops sempat pulang ke Lanud. Tiba-tiba mengalami sesak nafas dan pusing lalu dibawa ke klinik Lanud. Namun karena semakin parah, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Dian Harapan yang berada di Waena.
“Kami tiba di RS Dian Harapan sekitar pukul 13.15 WIT dan kondisi Kadis Ops masih dalam keadaan sadar,” ujarnya kepada Bintang Papua Jumat malam (05/10) ketika dihubungi melalui telepon celularnya.
Menurut Danlanud, meskipun sudah cepat dibawa ke rumah sakit tetapi ternyata Kadis Ops tetap tidak bisa tertolong. Kini, jenazahnya  disemayamkan di Lanud dan rencananya besok pagi (hari ini-Red) akan diterbangkan ke Manado dengan pesawat yang paling pagi.
“Kami tidak tahu akan menggunakan pesawat apa, kita lihat besok pagi, pesawat apa yang paling pagi ke Manado, itu yang akan digunakan,” jelasnya.
Ketika ditanya mengenai sosok Kadis Ops, Danlanud menuturkan bahwa Kadis Ops merupakan sosok yang bertanggung jawab, berintegritas dan berdedikasi tinggi sehingga pihaknya sangat merasa kehilangan. “Selain pribadi yang menyenangkan, jabatan yang didudukinya sangat penting. Pasalnya, Kadis Ops merupakan jabatan yang membantu Komandan Lanud di bidang operasi. Apalagi, beliau juga merupakan lulusan Ikatan Dinas Pendek (IDP),” urainya.
Diungkapkan, Kadis Ops sebelumnya tidak memiliki riwayat kesehatan yang buruk. Bahkan setelah mengikuti upacara, Kadis Ops masih sempat mengobrol dengan Danlanud. “Secepatnya kami akan isi kekosongan ini karena jabatan yang ditinggalkan merupakan jabatan yang penting,” tambah Danlanud. (dee/don/l03)

Sumber:  bintangpapua.com

Senin, 01 Oktober 2012

Mayat Pria Diduga Tewas Dibunuh di Manokwari.

Jasad Hans Saiba Di Pasar Wosi Diidentifikasi Anggota Polres Manokwari(Foto Budi Setiawan Kompas TV Manokwari)
MANOKWARI-JN.
Seorang pria ditemukan tewas, Senin (21/8/2012), sekitar pukul 22.30 WIT. Korban ditemukan dengan posisi tengkurap di kompleks perumahan Pasar Wosi, Kelurahan Wosi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, dengan luka bacok pada bagian kepala. Bahkan tangan kiri korban putus.
Penemuan mayat yang diketahui bernama Hansa Saiba ini, menggegerkan warga sekitar. Beberapa warga mengaku tidak mendengar adanya pertikaian yang terjadi di areal kompleks, sebelum pembunuhan tersebut terjadi.
“Tadi hanya sepi-sepi saja, kita tidak tau ada orang berkelahi di depan kompleks Pasar Wosi. Kita baru tau setelah ada polisi yang datang, amankan lokasi kejadian,” kata Saiman warga kompleks Pasar Wosi.
Polisi selanjutnya memasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian. Dari hasil identifikasi ditemukan luka sobek di bagian kepala korban yang diduga akibat senjata tajam. Polisi yang melakukan pengecekan tubuh korban menemukan sejumlah barang bukti untuk kepentingan penyelidikan selanjutnya.
Usai identifikasi, jasad korban diangkut dengan menggunakan mobil polisi menuju RSUD Manokwari. Keluarga korban yang mengetahui peristiwa itu ditenangkan polisi. Polisi pun berupaya menenangkan keluarga korbankan pembunuhan. Dugaan sementara, motif pembunuhan tersebut berlatar belakang dendam lama.(SNRP)

Sumber: justisianews.com

Minggu, 02 September 2012

Heboh, Siswa Kelas 1 SMP Tewas Bersisik Ikan

SINAR PAPUA - Seorang remaja kelas 1 SMP ditemukan tewas secara aneh, beberapa hari lalu. Peristiwa berlatar mistik ini berawal dari misteri kolam di tengah kerangka sisa bangunan lama di Lorong Kesenian, Kel. Belawan I, Kota Belawan. Inilah kisah di luar akal sehat itu.

Adalah Wahyu (12), warga yang tewas diiringi peristiwa keanehan itu. Menurut orang tuanya, kematian siswa kelas 1 SMP itu bermula dari kisahnya bermain di kolam atau genangan air di lahan kosong di Lorong Kesenian itu. Itu terjadi sepekan lalu. Ceritanya, bersama 6 teman sebayanya, Wahyu, warga Lorong Papan, Kel. Belawan I, itu menangkap ikan-ikan di kolam itu.

Dari kolam itu, Wahyu berhasil menangkap belasan ekor ikan mujahir. Ikan-ikan itu lalu diletakkan Wahyu di bak kecil dapur rumah orang tuanya. Tak nyana, saat hendak melepas ikan-ikan itu ke dalam bak, seekor di antaranya lepas dari tangan Wahyu. Ikan itu jatuh ke lantai rumah.

Saat jatuh, kaki Wahyu menginjak ikan itu hingga tewas. Ikan itu tewas dengan kondisi kepala pecah akibat terinjak kaki Wahyu. Peristiwa ikan tewas terinjak itu tentu dianggap biasa. Wahyu pun tak punya firasat aneh.

Tapi, kisah kematian ikan itu hadir secara gaib pada Senin (9/7) lalu. Ceritanya, ‘tak ada angin tak ada hujan’, sore itu tubuh Wahyu mendadak panas dingin. Orang tua Wahyu, Umar dan Ny. Zainab, awalnya mengira putra mereka itu demam biasa. Keyakinan itu pula yang membuat mereka tak mengantar Wahyu ke rumah sakit.

Besoknya atau Selasa (10/7) pagi, suhu panas tubuh Wahyu semakin tinggi. Saking demam tinggi, Wahyu tak bisa menggerakkan kakinya. Ya, ia tak bisa berjalan.

Keanehan penyakit yang diderita sulung dari 3 bersaudara itu, kontan membuat Umar dan istrinya, Zainab membawa Wahyu ke rumah neneknya di Jl. Bom Lama, Kec. Medan Labuhan. Tapi setiba di sana, kondisi Wahyu semakin parah. Wajahnya pucat bak kapas.

Kondisi Wahyu yang mendadak semakin mengkhawatirkan itu kontan membuat orang tua dan saudaranya panik tak karuan. Dan kepanikan itu semakin menjadi-jadi karena Wahyu yang menggigil panas-dingin mendadak kerasukan. Ia berkata-kata dengan suara yang sangat aneh.

Tubuhnya menggelepar-gelepar mirip ikan terdampar di darat. Di tengah kerasukan itu, Wahyu lalu menggeram. Marah. “Saya disiksanya. Kepala saya pecah. Saya mati dibuatnya. Dia harus menggantinya. Saya akan siksa dia seperti dia siksa saya. Kalian harus kembalikan ikan-ikan itu ke tempat asalnya, karena satu (orang) lagi akan saya buat seperti dia!” demikian bunyi suara gaib yang merasuki raga Wahyu. Saat berkata dengan intonasi tinggi itu, tubuh Wahyu terus menggelupur.

Peristiwa Wahyu kerasukan kontan membuat ayah, ibu serta saudaranya dicekam kepanikan tak terkira. Apalagi, usai ngomong aneh soal ikan tewas terinjak beberapa hari lalu itu, Wahyu menggigil kencang. Sekujur tubuhnya mendadak

membiru. Yang lebih mengerikan lagi adalah temuan darah mengucur dari matanya. Dan, kerasukan itu akhirnya berujung kematian.

“Habis kemasukan itu, anak kami langsung meninggal,” ucap Umar, saat ditemui di rumah duka. Kabar kematian Wahyu yang diiringi aksi kerasukan sambil ngomong soal kutukan ikan dari kolam di sisa bangunan tempo doeloe itu kontan membuat para tetangganya gempar. Amatan POSMETRO (Grup Riau Pos), pasca kematian aneh Wahyu, sejumlah warga Lorong Papan bahkan dicekam ketakutan.

“Kami awalnya tak percaya, waktu kami takjiah barulah percaya. Ngeri juga kami lihat. Takutnya bisa kena sasaran pula,” kata Minah, warga Lorong Papan. Kematian aneh Wahyu membuat keluarganya akhirnya mendatangi seorang paranormal terkenal yang bermukim tak jauh dari rumah mereka. Hasilnya?

Sama seperti kisah Wahyu di ambang ajal, dukun itu pun mendadak dirasuki arwah yang berkata-kata mirip seperti tema yang diucap Wahyu sebelum tewas. Ya, suara gaib yang merasuki paranormal itu juga mengaku sebagai arwah ikan yang mati terinjak Wahyu. “Tolong kembalikan ikan – ikan itu, karena satu orang lagi akan saya perlakukan seperti yang dilakukan dia,” demikian suara gaib yang merasuki tubuh sang paranormal, diulang orang tua Wahyu.

Karena diyakini sangat kental bermotif mistis, usai kerasukan, sang paranormal menegaskan orang tua Wahyu harus segera membalikkan sejumlah ikan tangkapan Wahyu yang masih berada di bak rumah mereka. Pesan sang dukun, ikan-ikan itu harus dibalikkan ke kolam tempat asal ikan itu ditangkap Wahyu dan sejumlah temannya.

“Karena kami takut, ikan yang ada di bak semuanya kami kembalikan ke kolam itu lagi. Waktu kami pulangkan kami minta maaf, bahkan ikan yang ada di kolam itu pun bermunculan waktu kami pulangkan,” kata Umar.

Proses pemulangan ikan-ikan itu ke dalam kolam diiringi sejumlah keluarga Wahyu (alm)_dengan membacakan ayat-ayat suci.

“Tubuh anak kami ini aneh kali birunya seperti sisik ikan. Anehnya lagi, mulutnya pun mengeluarkan buih semacam lumpur. Semoga tidak ada lagi yang menjadi korban seperti Wahyu,” demikian harap-harap cemas sekalangan keluarga Wahyu saat ditemui di rumah duka, usai pemakaman jenazah remaja malang itu.

Diajak Nikah Putri Cantik

Kabar kematian pelajar SMP itu jelas jadi perbincangan hangat. Tak sedikit warga yang takut anaknya seperti Wahyu karena pernah mengambil ikan di tempat sama. Penuturan Sumiati (60), lahan 15×20 meter itu adalah bekas rumah yang dihancurkan dan sudah kosong 4 tahun belakangan.

Dulu, sekitar 10 tahun silam, lahan yang kini kosong itu adalah rumah sewa 4 pintu. Di antara rumah itu, disewa oleh anaknya, Indra Kusuma. Selama menyewa di rumah milik Marga Manurung, Sumiati mengaku anaknya selalu dihantui gejala. Misalnya, sandal-sandal mereka yang tiap malam berserakan di depan rumah, besok paginya malah tersusun rapi.

Terkadang, terdengar suara nyanyian seorang wanita. Puncak keanehan itu, Indra pernah hilang sehari. Awal, Indra keluar rumah dengan pakaian biasa. Tiba-tiba dia hilang. Keluarga yang kecarian hingga sore, akhirnya meminta bantuan paranormal. Berdasarkan petunjuk paranormal Indra telah masuk ke alam gaib yang berada di lingkungan rumah yang disewanya. Untuk melepaskan dari jeratan itu, keluarga diarahkan untuk memukul gendang di lokasi dekat rumah yang disewa Indra. “Kami pun rame-rame mukul gendang dan talam di depan rumah, sekitar setengah jam anak kami pun keluar,” cerita Sumiati mengenang hilangnya Indra.

Setelah bebas dari dunia gaib itu, Indra mengaku masuk ke alam itu bertemu dengan seorang gadis cantik dan meminta untuk menikah dengannya. Berbagai fasilitas hidangan makanan mewah dilihatnya di alam tersebut.

Bahkan, ketika dirinya terjerat di alam gaib itu, Indra melihat lingkungan rumahnya. Dia juga sempat meminta tolong untuk dikeluarkan. “Anak saya itu, nampak katanya kami lalu lalang. Dia menjerit minta tolong tapi tak dihiraukan, karena kami tak nampak dia,” cerita wanita berusia 60 tahun tersebut.

Pantauan POSMETRO, di lahan itu penuh semak dan ditumbuhi pohon pandan besar di sekitar kolam ikan tersebut. “Jadi ngeri juga kita. Memang selama kosong tak ada kejadian aneh, kecuali kejadian yang anak itu, jadi takut juga kita,” kata Ernawati warga yang tinggal di depan lahan kosong tersebut

Sumber: anehcuy.blogspot.com

.